Jalur Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan Ditutup Sementara

Sabtu (8 Mei 2010) kemarin saya mengunjungi basecamp pendakian gunung slamet di Bambangan. Rencananya adalah untuk melakukan pendakian gunung slamet. Sayangnya, setelah menempuh perjalanan jauh dari jakarta, harapan saya untuk bisa melakukan pendakian mesti saya kubur dalam - dalam. Mas Sugeng, petugas basecamp di bambangan mengatakan bahwa jalur pendakian ke gunung slamet ditutup untuk sementara sampai waktu yang belum di tentukan.
Alasan ditutupnya gunung slamet untuk pendakian adalah karena statusnya yang sedang waspada. Penutupan tersebut menurut mas sugeng atas instruksi langsung dari badan vulkanologi setempat. Biasanya, dengan alasan tertentu, dia bisa saja membuat kebijaksanaan sendiri untuk mengizinkan pendaki yang telah datang jauh - jauh untuk bisa melakukan pendakian. tapi, menurut beliau pula, untuk saat ini, dia tidak bisa memberi izin tersebut, dikarenakan kondisi gunung slamet yang memang sedang berbahaya untuk didaki.
Jadi untuk rekan - rekan yang ingin melakukan pendakian ke gunung slamet, sebaiknya anda menghubungi basecamp terlebih dahulu sebelum berangkat. Daripada nanti harus kecewa setelah datang jauh - jauh dari lokasi anda. anda bisa menghubungi basecamp bambangan di nomor : 0857 26000 335 dengan mas Sugeng Riyadi atau HT : 14,278 MHz. Alternatif Nomor lain yang bisa dihubungi :
SLAMET : 085727444495 - 081391329999
MULYANTO : 081542764742
Untuk Jalur - Jalur Pendakian Gunung slamet lainnya, masih dalam proses konfirmasi, tapi menurut saya, mengingat kondisi gunung slamet yang sedang dalam status waspada, tidaklah memungkinkan untuk melakukan pendakian ke gunung slamet dari jalur manapun.

Macan Tutul Jawa Tertangkap Kamera TNGHS

Dua ekor macan tutul jawa (Panthera padus melas) dewasa tertangkap kamera yang dipasang tim pemantau macan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Hasil cetak foto dari kamera tersebut juga mengungkap jalur jelajah satwa langka tersebut dilintasi oleh manusia.

”Untuk mengetahui populasi dan penyebaran macan tutul jawa, kami melakukan monitoring dengan memasang kamera pengintai (camera trap) pada 17 Desember 2009 hingga 5 Januari 2010. Hasilnya, antara lain, dua ekor macan tutul jawa dewasa terfoto oleh kamera itu,” kata Kepala Balai TNGHS Bambang Supriyanto di Bogor, Sabtu (16/1).

Lokasi pemantauan macan di lakukan di dua titik di kawasan resor Gunung Kendeng sekitar 1.165 meter di atas permukaan laut dan 1.011 di atas permukaan laut. Metode yang dipakai adalah pemasangan kamera pengintai serta pengamatan langsung terhadap tanda berupa bekas cakaran (marking), jejak tapak kaki (footprint), kotoran (faeces), dan identifikasi jenis pakan.

Selain memastikan keberadaan dua ekor macan dewasa itu, hasil pemantauan juga menunjukkan ketersediaan pakan bagi macan mencukupi.

Bekas cakaran dan jejak tapak kaki yang ditemukan di areal pemantauan menunjukkan kawasan itu memang kawasan jelajah dan teritorial macan tutul jawa.

Dari kotorannya yang ditemukan jelas sekali bahwa satwa itu memangsa babi, musang, dan primata.

”Kawasan TNGHS memang habitat terbaik bagi macan jawa. Satwa ini pemangsa puncak pada rantai makanan di kawasan hutan TNGHS. Mereka mengendalikan hama babi dan musang di hutan taman nasional sehingga tidak menjadi hama bagi petani yang bertani atau berkebun di sekitar kawasan,” ujar Bambang.

Kawasan TNGHS terletak di Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Lebak seluas 113,357 hektar. Saat ini populasi macan tutul jawa berkisar 41-45 ekor. (RTS)

sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/18/03131958/macan.tutul.jawa.tertangkap.kamera.tnghs

Pendaki Gunung Hilang di Gunung Cikuray

GARUT--MI: Seratusan personil Polres Garut, Jawa Barat dan kelompok pecinta alam setempat 'Jenggala' sejak Jumat (15/1) pagi melakukan penyisiran di kawasan Gunung Cikuray, Garut, mencari keberadaan Reni Komalasari, 18, yang menghilang di gunung itu.

Komalasari, warga Jl Maulana Hasanudin Rt.04/03 Kecamatan Cipondoh Makmur, Tanggerang, Banten, sejak 20 Desember 2009 hingga saat ini selama 26 hari, menghilang di belantara hutan Gunung Cikuray.

Sebelumnya, korban melakukan pendakian bersama 13 rekan lainnya, namun saat turun gunung melintasi jalur menuju Kecamatan Bayongbong, Reni sempat duduk kelelahan kemudian ditinggalkan tiga rekan lainnya mencari air, namun ketika kembali, Reni tidak ada lagi di tempat tersebut.

Orang tua Reni baru melapor ke polisi Kamis (14/1), sedangkan berdasarkan pengakuan rekannya selama ini terus-menerus melakukan pencarian, yang sebelumnya pun tidak pernah melapor ke aparat manapun untuk mendaki gunung berketinggian sekitar 2.800 mdpl tersebut.

Untuk melakukan pencarian, jajaran Polres Garut, membentuk tim internal dengan melibatkan seluruh fungsi kepolisian, termasuk menjalin koordinasi dengan pecinta alam Jenggala.

Empat personil Jenggala sejak Kamis sore berangkat ke lokasi untuk membuka jalur pencarian oleh Tim internal mulai Jumat dini hari (15/1).

Diperoleh informasi, Reni Komalasari baru pertama kali melakukan pendakian gunung setinggi ribuan meter di atas permukaan laut itu. Bahkan kedua orang tuanya di kampung, sebelumnya tidak menyetujui putrinya itu melakukan pendakian. (Ant/OL-01)

sunber : http://www.mediaindonesia.com/read/2010/01/15/117179/123/101/Seorang-Pendaki-Hilang-di-Gunung-Cikuray

Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Sementara


Aparat Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) akan menutup jalur pendakian ke puncak Gunung Gede yang memiliki ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan puncak Gunung Pangrango 3.019 mdpl.

"Penutupan dilakukan dalam rangka pemulihan ekosistem di kawasan konservasi selama tiga bulan mulai 1 Januari-31 Maret 2010," kata Kepala Balai Besar TNGGP Sumarto Suharno, di Sukabumi, Senin (21/12/2009).

Selain untuk pemulihan ekosistem di dalam kawasan konservasi, juga untuk mengantisipasi musim hujan disertai angin kencang yang akan membahayakan para pendaki.

"Penutupan pendakian gunung tersebut sudah rutin dilaksanakan setiap tahun. Diharapkan dengan adanya penutupan khusus wisata pendakian gunung kawasan dapat pulih dengan sendirinya," ujarnya.

Mengantisipasi adanya pendaki tak berizin, menurut Sumarto, pihaknya menerjunkan sebanyak 134 orang petugas, yang terdiri dari polisi hutan (polhut) sebanyak 42 orang, SAR 30 orang, Forum Interpreter dan Sukarelawan (volunteer) 36 orang, dan Pam Swakarsa sebanyak 26 orang.

"Para petugas akan melakukan pengawasan di setiap jalur pendakian. Bagi pendaki yang membandel akan dikenakan sanksi," tuturnya.

Sanksinya, berdasarkan Undang-Undang (UU) No 5 Tahun 1990 tentang Kawasan Konservasi, berupa ancaman pidana maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Menurut Sumarto, kawasan konservasi Gede Pangrango merupakan salah satu ekosistem hutan hujan tropis pegunungan terbaik di Pulau Jawa dan merupakan salah satu dari lima taman nasional (TN) tertua di Indonesia.

Salah satu fungsi ekosistem taman nasional ini, kata dia, adalah sebagai sistem penyangga kehidupan, antara lain, sebagai pengatur tata air bagi daerah di sekitar kawasan hingga daerah hilir.

Kelestarian fungsi dari ekosistem mutlak dijaga karena secara langsung ataupun tidak langsung akan sangat berpengaruh bagi kehidupan di kawasan sekitarnya, seperti Jakarta, Bogor, Bekasi, Cianjur, dan Sukabumi.

Untuk kegiatan rekreasi harian dan berkemah di bumi perkemahan (buper) dapat dilakukan sesuai dengan lokasi yang telah ditentukan, antara lain, Resor Cibodas, Resor Gunung Putri, Resor Selabintana, Resor Situgunung, Resor Bodogol, dan Resor Cisarua.

Sumber : Regional.compas.com

Napak Tilas Soe Hok Gie 1969-2009

Description
Napak Tilas Soe Hok Gie 1969-2009
Cintailah Kehidupan: Satu pikiran, ucapan, dan perbuatan.
Kami komunitas pencinta alam se-Malang dan Mapala UI mengundang rekan-rekan sekalian untuk turut berpartisipasi dalam peringatan Napak Tilas Soe Hok Gie 1969-2009 'Cintailah kehidupan: Satu pikiran, ucapan, dan perbuatan'.
Napak Tilas Soe Hok Gie 1969-2009

Start Time: Monday, December 7, 2009 at 8:00am
End Time : Sunday, December 20, 2009 at 1:00pm
Location : Kota Malang dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Prolog:

Dan saat nanti, Desember 2009, tepat 40 tahun meninggalnya Soe Hok
Gie, kami –kelompok dan individu penggiat alam bebas, yang beratensi
terhadap ide dan pemikiran Hok Gie– berniat berkumpul mengenang dan
menyoba memahami lebih dalam ide dan pemikiran Soe Hok Gie.

Momen tersebut penting, karena selain semangat Soe Hok Gie masih
relevan di era sekarang ini, kami menyakini bahwa ada satu pesan dari
semangat Hok Gie tersebut yang saat ini bisa diaplikasi secara bersama
untuk menjadi gerakan sosial (social movement).

Kegiatan ini akan dilaksanakan di wilayah Malang, tepatnya di pinggir
Danau Ranu Regulo, Desa Ranu Pani, di kaki Gunung Semeru. Pemilihan
lokasi yang spesifik ini didasarkan pada karakteristik yang unik dari kota
Malang yang dikelilingi oleh gunung-gunung, sehingga banyak tokoh dan
kelompok penggiat alam bebas yang lahir di Malang.
untuk informasi bisa menghubungi MAPALA UI di (021) 78884872


Pelatihan Gunung-Hutan Eiger (MJC East) 2009

Untuk ketujuh kalinya PT. Eigerindo MPI melalui Eiger Adventure Service Team
(EAST) kembali akan menggelar pelatihan gunung hutan, atau yang biasa dikenal
dengan nama Mountain and Jungle Course (MJC) – EAST 2009. Lokasi yang dipilih
kali ini adalah kawasan Gn. Merapi, Yogyakarta, tanggal 18 s/d 24 Desember 2009.

Tema yang akan diangkat pada MJC kali ini yaitu : Land Navigation For Disaster
Management
Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini, diantaranya adalah :
1. Menyampaikan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melakukan kegiatan di
alam terbuka, khususnya dalam bidang pendakian gunung dan penjelajahan hutan
2. Memberikan gambaran umum mengenai pemahaman karakteristik bencana bagi para
penggiat kegiatan di alam terbuka / pencinta alam yang sering terlibat dalam
upaya mitigasi dan penanganan tanggap darurat bencana [pra bencana, ketika
bencana dan pasca bencana]
3. Panduan praktis bagi para penggiat kegiatan di alam terbuka dalam membaca dan
menggunakan peta-kompas untuk memetakan daerah yang terkena bencana
4. Memberikan gambaran tentang pengetahuan Medical First Rescue dengan
pokok-pokok substansi ; gambaran umum MFR, penyebab serta penanggulangan secara
praktis
5. Mempererat tali silaturahmi dan kerja sama para penggiat kegiatan di alam
terbuka baik dari kalangan perhimpunan atau kelompok pencinta alam dan pendaki
gunung, maupun perorangan

Ada tiga aspek yang akan disampaikan sebagai materi pelatihan dalam MJC – EAST
2009, yaitu :
1. Aspek mental, antara lain membangun sifat berani, jujur, tabah, ulet, setia
kawan, rendah hati dan cinta alam serta cinta tanah air.
2. Aspek fisik, antara lain pembinaan ketangguhan fisik, bukan saja pada saat
kondisi yang normal, tetapi juga pada kondisi yang minimal sesuai dengan
kebutuhan gerak di alam terbuka.
3. Aspek keterampilan, antara lain pengajaran dan latihan penguasaan berbagai
ilmu pokok serta kecakapan untuk melakukan penjelajahan sebagai modal dasar
untuk mampu melakukan kegiatan di alam terbuka, khususnya pendakian gunung dan
penjelajahan hutan.

Peserta terbuka untuk seluruh anggota organisasi Pencita Alam atau organisasi
umum lainnya, instansi pemerintah, umum dan perorangan.

Biaya pendaftaran sebesar Rp. 300.000,- per orang, tidak termasuk konsumsi
selama kegiatan.

Pendaftaran mulai tgl. 23 November s/d 12 Desember 2009 mulai pukul 09.00 s/d 16
WIB

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi :
EAST [Eiger Adventure Service Team]
Jl. Cihampelas 22 Bandung 40116 Jawa Barat
Telp. 022-4231668 [jam kerja], Fax. 022-4232173
Email : east@eigeradventure.com


Sekolah Esar Wanadri 2009

Kejadian-kejadian hilangnya para pendaki gunung di Indonesia sudah bukan hal yang baru lagi bagi wajah salah satu jenis kegiatan alam terbuka yang memang paling banyak penggiatnya di Indonesia ini. Hal ini terjadi kebanyakan akibat kecerobohan-kecerobohan yang dilakukan oleh para penggiatnya (Subjective danger).

Terlepas dari sebab-sebab kecelakaan terjadi, ada satu kegiatan yang tidak kalah pentingnya untuk dicermati, yaitu penanggulangan untuk menyelamatkan para pendaki yang mengalami musibah tersebut. Sering kita mendengar terjadinya kegagalan-kegalan dalam operasi SAR yang dilakukan (gagal menyelamatkan survivor dalam keadaan hidup) yang diakibatkan oleh keterlambatan informasi yang diberikan, kacaunya sistem pencarian yang dilakukan, dan kadang keterbatasan SDM (baik secara kualitas maupun kuantitas) yang terlibat serta keterbatasan peralatan penunjang yang dibutuhkan dalam operasi SAR yang diadakan. Hal-hal tersebut diperparah dengan kurangnya tingkat kesadaran “rasa kemanusiaan’ dan “ego” para penolong .

Berita-berita kehilangan yang sering menghiasi koran-koran harian di Indonesia (yang menjadi salah satu media pemberitaan informasi adanya kecelakaan gunung) kerap (sudah) terlambat pemberitaannya. Penanganan operasi SAR pertama kali kadang dilakukan tanpa sistem yang jelas dan terarah, sehingga daerah pencarian yang seharusnya dijaga (untuk keperluan pencarian/jejak-jejak) menjadi kacau. Orang-orang lapangan (SRU) yang terlibat dalam Operasi SAR kadang tidak ditunjang kemampuan yang sesuai untuk kualifikasi seorang SRU. Sehingga operasi yang seharusnya berjalan cepat (mengingat prinsip 3C dalam operasi SAR), menjadi berjalan lambat. Memang dalam suatu operasi SAR tidak dibatasi keinginan seseorang untuk turut membantu dalam pencarian, tetapi harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tiap orang, agar operasi pencarian tidak diperparah oleh kejadian ‘kecelakaan kedua’ yang terjadi pada regu pencari.

Akibat dari beberapa faktor kegagalan operasi SAR yang terjadi mengakibatkan Survivor (bila ditemukan ) sudah dalam keadaan tak bernyawa. Sehingga operasi SAR yang digelar merupakan upaya untuk mencari mayat, bukan untuk menyelamatkan nyawa seseorang.

Untuk menekan kegagalan yang terjadi dalam suatu Operasi SAR, Wanadri melaui Badan Diklat Wanadri berupaya untuk menyediakan tenaga-tenaga yang memiliki kualifikasi untuk seorang SRU operasi SAR Gunung Hutan dengan menggelar Sekolah ESAR. Kurikulum yang digunakan untuk Sekolah ESAR 09 ini mengacu kepada kejadian-kejadian yang sering terjadi di Indonesia.

waktu : senin, 28 december 2009 at 7:00am - , rabu 6 januari 2010 at 4:30pm
Lokasi : Taman Nasional Gn Gede - Pangrango
pendaftaran 15 nov s/d 20 des 2009.
Biaya Rp. 500 rb.
Lokasi pendaftaran: Sekretariat Wanadri Jl. Aceh 155 Bandung (022) 4206440,
Jl. Pahlawan 12A, Kalibata, Jakarta (021) 79184012.

Extreme Journey 2

Buat kawan - kawan yang suka memacu adrenalin dan tantangan alam bebas, ada sebuah event yang di selenggarakan oleh calderaindonesia.com
Silahkan baca hasil copas dari situs nya dibawah ini untuk info selengkapnya.
KONSEP
Sebuah perjalanan panjang penuh tantangan bagi para
PETUALANG SEJATI
Perjalanan dan petualangan dimulai sejak para petualang ini mendaftarkan diri mengikuti tantangan Orienteering agar dapat mengikuti tahapan selanjutnya. jika lolos tahapan Orienteering berikutnya adalah Eco Challenge yang sangat mendebarkan mesti dihadapi selama 48 jam nonstop agar dapat memasuki babak final untuk mendapatkan tiket TO EXPLORE THE WORLD

lombanya terdiri dari 3 babak:
1. Orienteering
tujuan pengenalan teknik orientasi. mengukur kemampuan anda
dibandingkan team lain
2. Eco Challenge
berikut beberapa tantangan yang harus dhadapi setiap team, yang harus
mereka atasi dalam 48 jam nonstop
- Trekking
- Rafting
- Ascending
- Mountain Biking
- River Crossing
3. Final Challenge
- Sea Kayaking
- Mountain Biking
- Dune Driving
- Camel Race
- Rock Climbing


satu team terdiri dari 3 orang
biaya 500 ribu/ team


untuk selengkapnya dapat langsung kunjungi link di bawah ini
calderaindonesia

Follow Via Facebook

Buku Tamu